Daftar Isi :
Prakata
Nasehat Habib Umar bin Hafidz:
Macam macam lintasan hati.
Menghadapi Cengkraman Setan.
Pintu Masuk Setan kedalam Hati.
Mengatasi Lintasan Buruk dan Setan.
Mengatasi was - was saat berdzikir.
Dzikir membakar lintasan Hati yang Buruk
Membaca Basmallah untuk perlindungan dari Setan
Sampai kapan was was berhenti?
Nasehat Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad.
Nasehat Habib Ahmad bin Hasan Al-Atthos.
Nasehat Habib Luthfi bin Yahya.
Nasehat Habib Taufiq Assegaf.
Nasehat Habib Munzir Al-Musawa.
Nasehat Ustadzah Halimah Alaydrus.
Lintasan Syirik / Kufur didalam Hati.
Cara mengobati Was was lainya :
Obat was - was menurut Ibnu Hajar al-Haitami.
Doa menghilangkan was - was.
Doa Syeikh Muhammad Wasi
Macam- macam lintasan hati
Lintasan hati yang datang kedalam hati manusia ada 4 macam :
1.Khatir rabbani ilahi yang datang dengan begitu kuat kedalam hati seseorang yang tidak dapat ditolak olehnya sama sekali.
2.Khatir malaki yang datang disertai oleh rasa tuma'ninah dan ketentraman serta menjadi lebih kuat dengan dzikrullah , ia mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kejahatan serta membuka pintu - pintu ma'rifah dan memberikan pemahanan terhadap wahyu Allah dan ayat - ayatNya
3.Khatir Syaithani, ia selalu berubah - rubah ,ia menyuruh kepada banyak kejahatan tidak bermaksud untuk menyuruh kejahatan tertenti tapi maksudnya agar seseorang terjerumus kedalam kejahatan apapun. tandanya khatir tersebut menjadi lemah tatkala kita berdzikir kepada Allah dan wajib bagi orang yang diserang oleh hal ini untuk berlindung dengan berdzikir kepada Allah dan membenci lintasan hati tersebut dan menolaknya, khatir semacam ini akan meleleh dengan dzikrullah.
4.Khatir nafsani, ia berhubungan dengan tujuan - tujuan nafsu dan syahwat . tandanya yaitu orang tersebut akan menggapai tujuan tertentu yang berlawanan dengan syari'at .Khatir ini tidak akan melemah kecuali dengan mengingat mati . wajib bagi seseorang yang diserang oleh lintasan hati ini untuk menolaknya dengan mengingat tempat kembalinya kepada Allah , mengingat kematian dan kepulangannya kepada Allah serta menyibukkan diri dengan dzikrullah dan merenungi hari akhirat.Hal ini dapat membimbing seseorang untuk menuju jalan yang baik dan menjauhkannya dari kejahatan lintasan hati ini .
Kewajiban untuk Menghindari Cengkeraman Setan terhadap Hati dan Menutup Pintu-Pintu Masuknya
Ketahuilah bahwa hati bagaikan bangunan berbentuk kubah yang memiliki beberapa pintu, di mana berbagai orang bisa masuk ke bangunan itu melalui pintu-pintu itu. Hati juga bisa diumpamakan seperti suatu objek yang menjadi target dari anak panah yang datang kepadanya dari segala arah. Pintu-pintu masuk berbagai pengaruh yang datang silih berganti ke dalam hati, adakalanya berupa sesuatu yang konkret, seperti pancaindra; dan kadangkala berupa sesuatu yang abstrak, seperti imajinasi [khayal], nafsu, amarah, dan akhlak-akhlak yang terbentuk dari tabiat dasar seseorang.
Pengaruh paling pentingyang masuk ke hati adalah bersit-hati atau bisikan-hati (khawathir), yaitu sesuatu yang mewujud di hati berupa pikiran dan ingatan. Sesuatu yang mewujud di hati tersebut adakalanya berupa pengetahuan terbarui dan adakalanya pengetahuan lama yang terpendam. Dinamakan bersit-hati karena ia tebersit atau terlintas di hati setelah terlupakan.
Awal dari segala perbuatan adalah bersit-hati (lintasan hati). Bersit-hati kemudian menggerakkan keinginan; keinginan lantas menggerakkan kemauan; kemauan kemudian menggerakkan niat; dan niat lantas menggerakkan anggota badan.
Bersit-hati dibagi menjadi dua. Ada yang mengajak kepada kejahatan dan berdampak buruk; dan ada yang menyeru kepada kebaikan dan bermanfaat untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Dua jenis bersit-hati tersebut berbeda. Bersit-hati yang terpuji dinamakan ilham (bisikan malaikat), sedangkan yang tercela disebut waswas (bisikan setan). Perbe-daan berbagai kejadian disebabkan oleh perbedaan sebab-sebabnya.
Penyebab bersit-hati yang menyeru kepada kebaikan dinamakan malaikat, sementara penyebab bersit-hati yang mengajak kepada keburukan disebut setan. Adapun kelembutan yang membuat hati siap untuk menerima ilham dinamakan taufiq, sedangkan kelembutan yang membuat hati siap untuk menerima waswas dari setan disebut ighwa’ (penipuan) dan khidzlan (penyesatan).
Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang bertugas untuk melimpahkan kebaikan dan ilmu, menyingkap hakikat dan kebenaran, menjanjikan kebaikan, dan memerintahkan kepada kebaikan. Allah menciptakan dan menundukkannya untuk mengemban tugas-tugas seperti itu. Adapun setan adalah ciptaan Allah yang mempunyai peran yang bertolak belakang dengan peran malaikat, yaitu menjanjikan keburukan, memerintahkan kepada kejahatan, serta menakut-nakuti orang yang hendak berbuat kebaikan, misalnya dengan kemiskinan.
Jadi, waswas adalah kebalikan dari ilham, setan adalah lawan dari malaikat, dan taufiq adalah kebalikan dari ighwa’ dan khidzlan. Allah Swt. berfirman, Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan (QS Al-Dzariyat [51]: 49).
Jadi, segala yang wujud saling berkebalikan, kecuali Allah Swt. Sesungguhnya Allah itu esa tanpa kebalikan, tetapi Dia Maha Esa, Maha benar, Pencipta semua yang berpasangan.
Di dalam hati terjadi tarik-menarik antara setan dan malaikat. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Didalam hati terdapatduasentuhan. Sentuhan dari malaikat merupakan janji kebaikan dan pembenaran terhadap kebenaran. Maka barang siapa mendapat sentuhan itu, ketahuilah bahwa itu datang dari Allah Yang Mahasuci, dan ucapkan puji syukur kepada-Nya. Sentuhan dari musuh (yaitu setan) merupakan janji keburukan, pendustaan terhadap kebenaran, dan larangan terhadap kebaikan. Maka barang siapa mendapatkan sentuhan (jahat) tersebut, hendaknya ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.” Kemudian Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam membaca firman Allah Swt., “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu.
Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui’.’ Terkait dengan tarik-menarik hati oleh dua kekuatan ini, terdapat hadis yang menyatakan, “Hati orang mukmin berada di antara dua jari di antara jari-jari. Zat Yang Maha Penyayang nan Mahaluhur!’ Terkait dengan firman Allah Swt., (Aku berlindung kepada Allah) dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi (QS Al-Nas [114]: 4). Mujahid mengatakan, “Setan membentangkan tangannya kepada hati. Jika hati berzikir kepada Allah, setan meringkuk dan bersembunyi. Tetapi jika hati lalai, setan membentangkan tangannya menguasai hati. Mengenai tarik ulur tersebut, Allah Swt. berfirman, Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah (QS Al-Mujadilah [58]: 19). Ibnu Wadhdhah menyatakan terkait dengan sebuah hadis yang dilansirnya, “Jika seseorang telah mencapai usia 40 tahun, tetapi belum bertobat, setan mengusapkan tangannya ke wajah orang tersebut.” Ia menambahkan, “Demi ayahku, itulah wajah orang yang tidak beruntung.” Dengan demikian, sudah jelas kiranya makna waswas, ilham, malaikat, setan, taufiq, dan khidzlan.
Maka, sudah seharusnya hamba Allah memperhatikan setiap bersit yang terlintas di hatinya agar ia tahu apakah itu berasal dari sentuhan malaikat atau setan. Ia pun hendaknya memperhatikan hal tersebut dengan mata batin, cahaya ketakwaan, dan naluri ilmu, bukan dengan hawa nafsu. Sebagaimana firman Allah Swt., Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat dari setan, mereka pun segera ingat. Maksudnya, mereka segera berpaling kepada cahaya ilmu. Maka ketika itu juga mereka bisa melihat (QS Al-A’raf [7]: 201). Maksudnya, tersingkap bagi mereka segala kesulitan. Adapun orang yang tidak menempa dirinya dengan ketakwaan sehingga hatinya cenderung mematuhi tipu daya setan dan menuruti hawa nafsu, ia banyak melakukan kesalahan dan mempercepat kehancuran dirinya, tetapi ia tidak merasa.
Sumber: Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz
Rincian Pintu-Pintu Masuk Setan ke dalam Hati
Setan mempunyai banyak pintu masuk menuju hati. Karena itu, engkau, wahai -orang mukmin, harus menutupnya.
Salah satu pintu utamanya adalah nafsu dan amarah. Amarah adalah perusak akal. Jika bala tentara akal melemah, bala tentara setan akan datang menyerang.
Salah satu pintu utama yang lain adalah iri hati dan tamak. Bilamana seorang hamba berlaku tamak terhadap apa pun, ketamakan itu akan membuatnya buta dan tuli. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa membuatmu buta dan tuli.”
Pintu utama lainnya adalah kenyang, meskipun dari makanan yang halal dan bersih. Sesungguhnya kenyang bisa menguatkan nafsu, padahal nafsu adalah senjata bagi setan. Dikisahkan bahwa iblis menampakkan diri kepada Nabi Yahya bin Zakaria. Lantas Nabi Yahya melihat berbagai macam kail yang dibawa iblis. Beliau lalu bertanya, “Hai Iblis, apa gerangan kail-kail itu?” Iblis menjawab, “Ini adalah ragam nafsu yang kuhantamkan kepada anak-cucu Adam.” Nabi Yahya kembali bertanya, “Lalu adakah salah satu kail itu pada diriku?” Iblis menjelaskan, “Mungkin engkau kekenyangan sehingga membuatmu berat untuk mengerjakan shalat dan berzikir.” Nabi Yahya bertanya lagi, “Adakah yang lain?” Iblis menjawab, “Tidak.” Kemudian Nabi Yahya mengatakan, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi memenuhi perutku dengan makanan.” Lalu iblis membalas, “Demi Allah, selamanya aku tidak akan lagi menasihati seorang Muslim.”
Pintu utama yang lain adalah kemewahan dalam perabotan, pakaian, dan rumah. Jika setan melihat kemewahan telah menguasai hati seseorang, ia akan bertelur dan menetas di hati tersebut. Ia akan senantiasa mendorong orang tersebut untuk memperbanyak benda-benda tersebut dan bermewah-mewahan dengannya sehingga usianya berlalu dalam kelalaian dan ia dikejutkan dengan datangnya ajal.
Pintu utama lainnya adalah mengharap pujian manusia. Jika sifat ini sudah menguasai hati seseorang, setan akan senantiasa membuatnya senang untuk bersikap berpura-pura, sok manis, berlaku riya, dan melakukan tipu daya di depan orang yang menjadi objeknya, sehingga objek tadi seakan-akan sudah menjadi sembahannya. Orang yang mencari muka akan senantiasa memikirkan cara untuk membuat objeknya menyukai dirinya. Ia pun akan memuji objeknya dengan ucapan-ucapan manis yang melenakan, menyembunyikan keburukan-keburukannya, tidak menyerunya kepada kebaikan, dan tidak melarangnya dari kemungkaran.
Pintu masuk lainnya yang utama adalah tergesa-gesa dan tidak melakukan verifikasi. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda, “Tergesa-gesa berasal dari setan, sedangkan berhati-hati dari Allah Swt.” Sebab, setiap pekerjaan seharusnya dilakukan setelah direncanakan dengan matang. Perencanaan sendiri memerlukan perenungan dan kehati-hatian. Adapun ketergesaan menolak hal tersebut.
Pintu utama lainnya adalah dirham, dinar, dan semua jenis harta benda, baik yang berupa barang, kendaraan, maupun benda tidak bergerak. Setiap harta yang melebihi kebutuhan adalah tempat berdiamnya setan.
Pintu masuk utama lainnya adalah sifat kikir dan takut miskin. Sifat tersebut mencegah seseorang untuk bersedekah dan mendorongnya untuk menimbun. Di antara dampak buruk yang timbul dari sifat kikir adalah kegemaran berada di pasar guna mengumpulkan uang, serta tempat-tempat lain yang di dalamnya terdapat penipuan, kebohongan dan tipu daya.
Salah satu pintu utama yang lain adalah fanatisme terhadap mazhab dan sekte; juga kedengkian dan penghinaan kepada lawan. Itulah sebagian di antara yang menghancurkan hamba-hamba Allah dan orang-orang fasik secara keseluruhan.
Salah satu muslihat setan adalah ia memalingkan manusia dari aib-aib dirinya, dengan berbagai perselisihan dan pertengkaran antar-mazhab. Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Sekelompok orang berkumpul dan berzikir kepada Allah. Lalu setan mendatangi mereka dengan tujuan membuyarkan mereka dari majelis zikir dan membuat mereka bercerai berai. Namun, ia tidak berhasil. Ia kemudian mendatangi kelompok lain yang sedang membicarakan urusan duniawi. Ia pun memecah—belah mereka sehingga mereka bangkit saling membunuh di antara mereka. (Namun, bukan kelompok kedua ini yang menjadi target setan.) Kelompok yang tadinya berzikir kepada Allah lantas sibuk mengurus kelompok kedua dan mendamaikan mereka. Dengan kesibukan itu, kelompok pertama akhirnya membuyarkan diri dari majelis zikir mereka. Itulah tujuan setan terhadap mereka.”
Pintu utama lainnya adalah pintu yang membawa orang-orang awam yang belum mendalami dan menguasai ilmu agama untuk memikirkan zat Allah Swt., sifat-sifat-Nya, dan berbagai hal yang tidak bisa dicapai oleh nalar mereka sehingga mereka ragu terhadap pokok-pokok ajaran agama Islam atau tergambar di pikiran mereka berbagai persepsi tentang Allah yang tidak pantas disematkan kepada-Nya. Dengan demikian, orang-orang yang terjebak pada pintu ini bisa menjadi kafir atau pelaku bid’ah. Namun, mereka senang dan bahagia atas persepsi yang ada di dada mereka, seraya menyangkanya sebagai makrifat. Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam pernah bersabda, “Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kalian, lantas ia bertanya, ‘Siapakah yang menciptakanmu?’ Ia akan menjawab, ‘Allah Yang Mahasuci nan Mahaluhur.’ Setan bertanya lagi, ‘Siapa yang menciptakan Allah?’ Jika salah seorang di antara kalian mendapatkan pertanyaan seperti itu, hendaklah ia menjawab, ‘Aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya.‘ Jawaban itu akan mengusir setan tersebut!’ Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam tidak memerintahkan umatnya untuk membahas cara mengatasi bisikan setan seperti itu, karena bisikan seperti itu hanya menghinggapi orang-orang awam, bukan para ulama. Sementara itu, kewajiban orang awam hanyalah beriman, berserah diri, dan menyibukkan diri dengan ibadah dan urusan penghidupan.
Di antara pintu-pintu setan yang utama adalah buruk sangka terhadap orang-orang Muslim. Allah Swt. berfirman, Wahai orang-orang yang beriman!Jauhilah sebagian besar prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa (QS Al-Hujurat [49]: 12). Siapa yang menilai buruk orang lain lantaran prasangka, setan mendorongnya untuk memanjangkan lidah dengan menggunjingnya, mengurangi pemenuhan terhadap hak-haknya, atau memandangnya dengan pandangan sebelah mata. Semua itu termasuk perkara-perkara yang mencelakakan.
Selain itu, syariat Islam juga melarang kita memosisikan diri pada kondisi yang bisa menimbulkan tuduhan orang lain. Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salambersabda, “Takutlah kalian (hindarilah) terhadap tempat-tempatyang bisa menjadikan kalian tertuduh.”
Suatu ketika Rasulullah berjalan bersama Ummul Mukminin Shafiyah r.a., mengantarnya pulang ke rumahnya. Lalu mereka berpapasan dengan dua orang Anshar. Rasulullah lantas menjelaskan kepada mereka, “Dia Shafiyah binti Huyai.” Mereka lalu mengatakan, “Ya Rasulullah, kami hanya berprasangka baik kepadamu.” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setan masuk ke diri anak-cucu Adam melalui aliran darah di dalam tubuhnya. Sungguh, aku khawatir setan akan masuk ke diri kalian.” Lihatlah bagaimana Rasulullah perduli dan menjaga agama dua orang sahabatnya. Lihatlah bagaimana beliau menyayangi umatnya dengan mengajarkan kepada mereka cara menjaga diri dari tuduhan orang. Meskipun seseorang sangat tinggi kezuhudan, ketakwaan, dan keilmuannya, sesungguhnya mata manusia tidak sama dalam menilainya. Ada yang menilainya dengan pandangan kasih sayang dan ada pula yang menilainya dengan pandangan kebencian. Karena itu, sebuah syair mengatakan:
• Mata kasih terhadap setiap aib adalah lemah.
• Tetapi mata kebencian menampakkan semua keburukan.
• Maka, sudah seharusnya kita menjaga diri dari berburuk sangka dan tuduhan dari orang-orang yang tidak baik.
• Jika sudah buruk perbuatan seseorang, buruk pula prasangka-prasangkanya dan ia memercayai tuduhan-tuduhan atas perbuatan yang ia sudah terbiasa dengannya.
Pintu-pintu masuk setan ini harus ditutup, hati harus dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela dengan memperbanyak zikir dan berserah diri kepada Allah, dan kita harus menuntut ilmu dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang bertakwa.
Sumber : Amal Pemusnah Kebaikan Ringkasan Bab Mukhlikat Ihya ‘Ulum al-Din karya Al Habib Umar bin Hafidz
Lintasan Buruk , Setan, dan Syahwat
Walaupun manusia merasa berada dalam kondisi yang lemah atau mendapatkan serangan bertubi - tubi dari lintasan nafsu, setan dan syahwat yang rendah, maka hendaklah ia berhati - hati
dari perbuatan menyerah terhadap kondisi yang dialaminya, merasa lemah dalam menghadapinya, atau memiliki pemikiran bahwa lintasan - lintasan itu lebih kuat dari pertolongan dan rahmat Allah. padahal dirinya adalah makhluk yang menjadi tempat rahmat,maka hendaknya ia berpegang dengan sebab- sebab yang dapat mendatangkan rahmat , menghadapkan diri kepada sebab - sebab itu dan bersungguh - sungguh.
Sesungguhnya Allah yang Maha Besar
jika menguji dan mencoba hambaNya beberapa kali , lalu Dia melihatnya dalam keadaan merendah,memasrakan diri dan bergantung kepadaNya serta kembali dan menghadapkan diri kepadaNya dengan sungguh - sungguh , maka Dia akan mengangkat ujian tersebut darinya
lalu Dia akan mengantikan seluruh kejelekan menjadi kebaikan, kegelapan menjadi cahaya, dosa - dosanya menjadi pahala, dan membukakan baginya pintu hadiratNya,serta mengukuhkan pijakan yang teguh baginya.
Hendaklah berhati - hati dengan ucapan
"Aku lemah dihadapan syahwat ini" Aku lemah dihadapan lintasan dan kesalahan ini"
memang benar jika bersama diri sendiri maka akaran lemah, tetapi jika bersama ikatan kepada Allah , RasulNya , jalan hidupnya , dan para pecintanya maka dia tidaklah lemah.
Bersungguh - sungguhlah kuatkan niat dan hadapkan diri kepada Allah.Bencilah segala sesuatu yang menghalangi kita dari Allah, walaupun sesuatu yang kita benci itu ada didalam diri kita dan melintas di hati,bencilah ia dan perbaikilah taubatmu kepada Allah. walaupun kaki kita segera tergelincir dalam kesalahan , maka segeralah memohon ampun lebih cepat dari kilat,
kita harus mengganti ketergelinciran dengan kejernihan dan bersungguh - sungguh dalam melakukannya , serta melakukannya dengan puncak kemampuan kita , Lalu kabar gembita bagi mereka yang melihat dirinya dipenuhi kotoran, jika mereka mengikuti perintah dah wasiat ini , maka kotoran yang ada pada dirinya akan berubah menjadi kejernihan, kegelapannya menjadi cahaya,kejelekannya menjadi kebaikan dan kekurangya menjadi kelebihan.
Menghilangkan Was-Was Setan Dari Dalam Hati
Adakalanya muncul dalam hati manusia pelbagai was-was (bisikan jahat setan yang menimbulkan keraguan dalam hati), yang paling sulit diantaranya ialah menyangkut masalah akidah, demikian pula dalam pelbagai amalan peribadatan.
Adapun salah satu cara agar bisa terhindar dari was-was itu ialah, antara lain dengan meneliti secara saksama:apabila was-was tersebut sudah jelas-jelas berkaitan dengan kebatilan, seperti meragukan tentang eksistensi Allah dan hari akhirat, maka tiada jalan lain baginya kecuali harus menolaknya dengan tegas, dengan berpaling darinya dan memohon perlindungan Allah Swt. Secara tulus, seraya memperbanyak zikir kepada-Nya.
Akan tetapi bilamana bisikan was-was itu masih dalam kerangka sesuatu yang meragukan:apakah termasuk sesuatu yang haqq atau bathil, maka hendaklah meminta fatwa tentang hukumnya kepada orang-orang yang berilmu dan beroleh petunjuk;kemudian berpegang erat-erat dengan fatwa mereka dan mengandalkannya. Adapun setiap perbuatan hati yang dilakukan tanpa adanya unsur kesengajaan, maka kafarat (penebus)-nya adalah dengan bersikap membencinya.
Sebagian orang bertanya kepada Al-Imam Abdullah Al-Haddad tentang lintasan - lintasan hati yang mendatanginya. Lalu orang itu menyebutkan kalau dia takut terjadi sesuatu pada dirinya sebab lintasan - lintasan hati itu.
Al-Imam Al-Haddad menjawab :" Ketahuilah bahwasanya kamu tidak bisa mengobatinya dengan sesuatu yang lebih bermanfaat dari pada berpaling dari lintasan hati itu dan berusaha melupakannya, dan ketika lintasan hati itu datang sering - seringlah kamu mengucapkan :
سبحان الملك الخلاق
( ان يشأ يذهبكم ويأت بخلق جديد وما ذالك على الله بعزيز)
Jika Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakanmu dan mengganti(mu) dengan makhluk yang baru, (QS. 14:19) dan yang demikian itu sekali-kali tidak sukar bagi Allah. (QS. 14:20)” (QS. Ibrahim: 19-20)
( an-Nafais al-Uluwiyyah :88)
Habib Ahmad bin Hasan Al-Attos berkata :" Jika terlintas padamu lintasan hati yang tidak baik atau terlintas perbuatan maksiat, maka angkatlah kepalamu kelangit (arah atas) seraya ucapkanlah : اللّٰه
yang disertai menahan nafas dan mensukunkan huruf Ha' , karena lintasan yang datang pada hati akan terbakar dengan dzikir ini dan lintasan itu akan hilang seketika. Aku telah diberi ijazah oleh Sayyid Ahmad Dahlan amalan tersebut, dan hikmah mengangkat kepala kelangit adalah dikarenakan setan tidak bisa mendatangi manusia dari atasnya , Allah Swt berfirman :
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
" Kemudian saya(setan) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
(Q.S Al-A'raf :17)
dalam ayat Allah tidak berfirman : setan itu datang dari atas mereka (Tadzkirun-Nas :374)
Habib Luthfi bin Yahya :
Wa'alaikumussalam Wr. Wb.
Waswas, menurut Imam Al-Ghazali, disebabkan kemakrifatan kita kepada Allah sedikit goyah karena bisikan setan. Kemakrifatan yang dimaksud di sini tentu bukan yang berkaitan dengan sifat wahdaniyyah (keesaan) Allah Ta'ala, tetapi berkaitan dengan sifat Maha Melihat dan Mendengar yang dimiliki Allah SWT:
Namun bisikan penggoda kemudian menurunkan kadar keyakinan kita, bahkan kepada diri kita sendiri.
Cara menyembuhkannya, menurut Imam Ghazali, adalah dengan memantap kan hati bahwa wudhu dan shalat kita hanya untuk Allah Ta'ala. Hanya Allah yang berhak menilai ibadah kita. Saat mulai berwudhu, misalnya, kita langsung meyakinkan hati dan akal kita bahwa Allah pasti sudah melihat ibadah kita dan mendengar niat kita yang melakukannya dengan benar.
Begitu suatu rukun wudhu sudah kita lakukan tiga kali, langsung saja kita lanjutkan ke rukun berikutnya. Tepis bisikan-bisikan yang membuat kita ragu. Ucapkan dalam hati, 'Wudhuku ini untuk Allah, bukan untukmu, hai setan."Insya Allah perlahan rasa was-was akan hilang.
lkhtiar lainnya, setiap usai shalat, jangan lupa membaca surah An-Nas lima belas kali, dengan niat memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan setan yang membuat hati was-was.
Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, (Pekalongan)
Ra’is Am Idarah ‘aliyyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah
Menghilangkan Was-was
oleh:Habib Taufiq bin Abd Qadir Assegaff
Ajaran agama Islam tidak pernah mempersulit umatnya. Justru, agama ini hadir di muka bumi untuk
memberikan kemudahan dan jalan keluar dari kesulitan yang ada. Karena itu, segala sikap yang cenderung
berlebih-lebihan dan mempersulit diri dalam beragama sangatlah tidak dibenarkan. Karena hal ini dapat
menimbulkan sikap was-was. Inilah yang menjadikan sebab, mengapa para Ulama menyebutkan, bahwa was-
was itu disebabkan karena dua hal; pertama, adanya keraguan terhadap kebenaran ajaran agama yang dibawa
oleh Nabi Muhammad SAW, sehingga merasa perlu untuk ditambahi. atau yang kedua karena lemahnya akal
(kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama).
Yang Pertama, sebab karena keraguan atas kebenaran agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW, sehingga
merasa kurang sempurna. Padahal kaum Muslimin diperintahkan oleh Allah meniru Nabi-Nya.
Berwudhu misalnya, bagaimana cara mengambil air dengan berniat sambil membasuh muka, tangan, dan
mengusap sebagian kepala dan mencuci kedua kaki. Begitu juga dengan cara Sholat, telah dicontohkan beliau.
Jika tidak, Lalu siapa lagi yang akan dijadikan contoh dalam pelaksanaan sholat kita? Bukankah Rasulullah
telah bersabda:
ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻤُﻮْﻧِﻲ ﺍُﺻَﻠِّﻰ
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”.(Riwayat Al-Baihaqi,Ad-Daruquthny, dan Ibnu
Majah).
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an bahwa was-was sebenarnya adalah usaha syaitan untuk mengganggu
ibadahnya seseorang muslim agar tidak memiliki keikhlasan dalam ibadahnya. Ataupun agar dapat meragukan
sesuatu yang sudah jelas dalam ajaran agama. Seperti yang telah digambarkan dalam surat an-Nas ayat 4,5
dan 6 yaitu:
“Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada
manusia. Dari (golongan) jin dan manusia.”
Yang Kedua, akal yang kurang sempurna atau tidak normal, sehingga terkesan seperti orang gila, yang selalu
mengulang-ngulang perbuatan yang sama.
Adapun cara untuk menghilangkan was-was yang paling efektif adalah jangan percaya segala bentuk gangguan
atau perasaan yang menggiring terhadap sikap keragu-raguan.
Lakukanlah hal-hal yang telah diyakini saja.
Seperti yang diriwayatkan oleh Abi Daud, Ahmad, dan Baihaqi bahwa Rasulullah SAW bersabda:
ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻥَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻓَﻮَﺟَﺪَ ﺣَﺮَﻛَﺔً ﻓِﻲ ﺩُﺑُﺮِﻩِ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﺃَﻭْ ﻟَﻢْ ﻳُﺤْﺪِﺙْ ﻓَﺄَﺷْﻜَﻞَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻠَﺎ ﻳَﻨْﺼَﺮِﻑْ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺴْﻤَﻊَ ﺻَﻮْﺗًﺎ ﺃَﻭْ ﻳَﺠِﺪَ
ﺭِﻳﺤًﺎ
“Apabila ada diantara kalian ketika sholat merasakan ada yang bergerak dalam duburnya seperti berhadas
atau tidak dan dia ragu, maka janganlah dibatalkan sholatnya, sehingga mendengarkan suaranya atau mencium
baunya”
Hal ini juga dikuatkan Qaidah
Fiqhiyah bahwa:
ﺍﻟْﻴَﻘِﻴﻦُ ﻟَﺎ ﻳُﺰَﺍﻝُ ﺑِﺎﻟﺸَّﻚِّ
“Suatu keyakinan itu tidak bisa dihilangkan dengan sebuah keraguan”
Maka akan semakin jelas, bahwa sesuatu yang hanya berdasar pada perasaan atau keraguan tidak dapat
dijadikan pedoman untuk memutuskan bahwa wudhu atau sholat kita itu batal.
Begitu juga, tentang niat sholat misalnya. Ketika ada seseorang yang akan melakukan Sholat Subuh, tentu dia
akan melakukan hal yang sama seperti yang dikerjakan orang lain ketika akan sholat subuh, yaitu dilakukannya
di waktu subuh, kemudian berdiri menghadap kiblat, lalu melakukan Takbirotul-Ihrom disertai dengan niat
Sholat Subuh, kemudian memulai sholatnya.
Tidak perlu untuk mengulang-ngulang sholatnya hanya karena sebuah keraguan atau was-was dalam bertakbir
atau melafalkan niat. Bukankah hati kita telah merasa yakin bahwa kita memang akan melaksanakan ibadah
Sholat subuh, bukan ibadah sholat yang lain, walaupun tanpa melafalkan niat sekalipun, hal itu adalah sah.
Sebab, melafalkan niat itu adalah suatu perbuatan yang sunnah, yang hanya bertujuan untuk menampakkan
apa yang sudah diyakini dalam hati kita.
Adapun cara untuk membersihkan hadas setelah buang air kecil atau besar, adalah dengan berdehem sebanyak
tiga kali dan sedikit menekan pada jalan kemaluan dengan memerut (bagi laki-laki). Namun, jika kemudian dia
merasa ada yang keluar dari jalan kemaluan depan atau pun jalan kemaluan belakang, namun sebenarnya dia
tidak meyakini akan kebenaran keluarnya hadast itu dengan penuh keyakinan, maka itu hanyalah sekedar
perasaan.
Cara yang lain juga, dalam menghilangkan was-was dari kencing adalah dengan cara menyiramkan sedikit air
serta mencipratkannya pada daerah sekitar jalan depan, sehingga ketika nanti muncul keraguan atau was-was
bahwa jalan depan keluar kembali, maka kita akan mudah menghilangkan keraguan itu dengan meyakini bahwa
basahnya pada daerah karena air yang kita siramkan bukan yang lain. Bahkan dikatakan, cara yang cukup
efektif untuk menghilangkan perasaan was-was itu adalah dengan melawan atau menentang perasaan was-was
itu sendiri.
Sebab, bagaimanapun perasaan was-was atau keraguan itu sebenarnya berasal dari syaitan yang
mencoba untuk membisikkan kepada kita untuk menggangu keikhlasan ibadah kaum muslimin.
Walhasil, untuk menghilangkan Was-was adalah dengan segera membuang sikap kehati-hatian yang dapat menjadikan kita menjadi was-was. Selain itu, selama belum adanya keyakinan yang penuh dalam diri kita terhadap batalnya Wudhu atau Sholat atau yang lain, dan keyakinan itu tidak dapat mengalahkan keyakinan
sahnya wudhu dan Sholat kita, maka jangan membatalkannya.
Habib Munzir Al-Musawa :
saudaraku yg kumuliakan,
penyakit was was ini banyak macamnya, ada yg berupa keraguan terhadap ibadah, atau keraguan pada keadaan, atau keraguan atas kebenaran, dan sumber penyebabnya bermacam macam, bisa disebabkan dangkalnya pemahaman terhadap syariah, atau disebabkan frustasi, atau patah semangat sebab sesuatu, atau sebab lainnya,
namun sala satu pengobatannya adalah dengan membangkitkan ketenangan jiwa, jika jiwanya tenang maka seluruh was was itu akan sirna,
ketenangan hati adalah dengan dzikurillah, mengingat Allah, bertafakkur dan merenungkan perjumpaan dengan Allah swt, menerangi jiwa dengan cahaya Allah swt.., maka dengan ini seluruh was was akan sirna,
saudaraku, jangan risau dengan gangguan perasaan, anda sedang berperang dengan kewaswasan, maka kalahkan lah ia, teruskan perjuangan anda, jangan sampai anda meninggalkan amal ibadah karena dikalahkan oleh lintasan pikiran buruk,
banyak ketika seorang muslim menuju keluhuran, maka syaitan mengganggunya dg lintasan pikiran buruk hingga mengacau kekhusyuannya, maka jangan sesekali mengalah, teruskanlah, sungguh ia akan sirna sendiri.
jangan risau dg bisikan hati anda, itu sering mendatangi para shalihin sekalipun, namun sangat mudah menepisnya, bagaimana?, jika anda terus sibuk dg kerisauan maka syaitan terus masuk dihati anda dan mengganggu, maka tutup pintu hati anda dg melupakan itu dan meremehkannya,
saya tidak akan tertipu bisikan hati, saya tetap tidak akan sujud pada selain Allah swt, saya tetap tak akan menyembah selain Allah swt, dan saya mengakui Nabi Muhammad saw adalah nabi saya, dan saya mengakui islam agama saya, selepas dari itu saya berbuat semampunya, dan Allah sdh janji memaafkan hamba yg mohon pengampunannya.
tertawakan bisikan itu, jangan difikirkan, tertawakan, silahkan bisikkan apapun dikepala dan hatiku, aku tak akan berubah dari agamaku, dan semakin kau bisikkan maka aku semalkin dekat dan dicintai Allah swt, karena ditimpa musibah, maka silahkan menggodaku, karena dg itu aku makin mulia disisi Nya, Allah swt tiidak bisa ditipu, Allah swt tahu keadaanku, lebih dari semua makhluk Nya swt,. Allah swt tahu bahwa aku lemah menolak ini, maka Allah swt memaafkanku dan mengangkat derajatku hingga mencapai derajat luhur.
maka bisikan itu akan hilang...
Demikian saudaraku yg kumuliakan, semoga dalam kebahagiaan selalu, semoga sukses dg segala cita cita,
Wallahu a'lam
Tips menghilangkan penyakit was - was
oleh : Ustadzah Halimah Alaydrus.
Seseorang di majelisku beberapa hari yang lalu bertanya tentang was-was dan cara untuk menyembuhkannya.
Yang dia maksud dengan
was-was adalah adanya bisikan-bisikan disaat dia melaksanakan sebuah ibadah. Bisikan itu mengatakan bahwa apa yang dilakukan tidaklah sempurna atau malah tidak sah atau membuatnya ragu apakah dia sudah melakukannnya atau belum? Misalnya disaat dia telah hampir selesai berwudhu dia ragu-ragu wudhunya itu sudah diawali dengan niat atau belum, dan untuk meyakinkan dirinya, seringkali dia mengulang kembali wudhunya
sehingga untuk sekedar berwudhu dia
membutuhkan waktu berpuluh menit lamanya, demikian katanya.
Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan menukil jawaban dari beberapa ulama. Sayajuga ingat bahwa beberapa teman di pondok pesantren dulu banyak yang terganggu dengan penyakit ini dan tentu saja mengganggu orang lain pula.
Lebih daripada itu penyakit satu ini obatnya tidak akan ditemui di apotek padahal membiarkannya berlarut menjadikan was-was semakin menguasai hati seseorang. Jadi kiranya
perlu untuk saya tuliskan metode
pengobatannya disini hingga jika ada diantara saudara-saudaraku yang membacanya merasa terkena penyakit ini dia tahu bagaimana menghadapinya, dan bagi yang lain diharapkan bisa belajar untuk mencegahnya.
Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati? Baiklah, Untuk mulai membahas hal ini kita akan memulai dengan pertanyaan: Apakah sebenarnya was-was itu? Was-was adalah bisikan syeitan, dia berharap dengan bisikan tersebut orang jadi malas melakukan ibadah atau malah justru meninggalkannya.
Ibnu Abbas RA berkata: “ Was-was adalah penyakit orang mukmin.” Yang dari ucapan beliau kita bisa menyimpulkan
2 hal:
1- Hanya orang mukmin yang bisa terkena penyakit ini, maka jika engkau mulai diganggu dengan bisikan-bisikan tersebut jangan larut dalam kesedihan apalagi putus asa. Justru bolehlah sedikit berbangga sebab artinya engkau adalah seorang mukmin. Karena tentunya orang yang tidak ada iman di hatinya tidak akan peduli terhadap keabsahan ibadah apalagi kesempurnaannya.
2- Was-was itu penyakit dan selayak penyakit apapun bentuknya ia harus diobati, betul bahwa ia adalah tanda keimanan tapi membiarkannya merusak ibadahmu menjadikan keimananmu tidak meningkat-meningkat akhirnya. Bagaimana mengobatinya? Allah SWT berfirman dalam surat An-Nas "Katakanlah aku berlindung kepada Tuhannya manusia (1).
Penciptamanusia (2).
Pemelihara manusia (3).
Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi (4).
Dia berbisik dalam dada manusia (5).
Dari golongan jin dan manusia (6).
" Dari ayat di atas kita bisa menyimpulkan bahwa was-was itu sumbernya dari syeitan dan Imam Ghozali dalam minhajnya mengatakan beberapa teori untuk menghadapi kejahatan syeitan:
1- Lawan, jangan dengarkan apalagi ikuti. Jika syeitan mengatakan bahwa kita belum takbir katakan padanya saya sudah melakukannya.
Jika dia mengatakan engkau belum berniat katakan padanya niat itu tempatnya di hati dan tak ada yang tahu isi hati kita kecuali Allah, jika dia mengatakan pakaian kita kena najis katakan padanya aku tidak melihat atau pun menciumnya dan kita lebih percaya kepada mata dan hidung kita daripada kepadanya. Sebab syeitan meski terdengar semanis apapun bisikannya tak ada tujuan baginya kecuali menyesatkan.
Nabi Muhammad SAW bersabda dalam haditsnya: “Tatkala seseorang diantara kalian tengah duduk dalam sholat, Syeitan seringkali meniup bagian bawah tubuhnya (seolah ada angin yang keluar darinya), apabila terjadi yang demikian maka janganlah keluar dari sholatnya kecuali jika telah benar-benar mencium baunya atau mendengar suaranya“
Cobalah baca cerita yang saya nukil dari kitab i’anatut tholibin susunan Abu Bakar Syato di bab thoharoh di bawah ini: “Suatu ketika seseorang datang kepada seorang alim ulama pakar tata bahasa arab yaitu Imam Ibnu Malik, dan dia berkata padanya: “Wahai Imam, aku dengar bahwa seseorang tatkala pengetahuannya terhadap satu bidang ilmu telah seperti lautan berarti dia telah menguasai seluruh bidang ilmu yang lainnya, apakah itu benar? Ibnu malik menjawab: “Ya, memang begitulah adanya, sebab ilmu itu saling berkait antara satu dengan lainnya.” Penanya: “Engkau adalah seseorang yang pengetahuan agama dari segi tata bahasa arabnya telah kau kuasai dengan benar aku akan bertanya padamu tentangilmu fiqih, selama ini di saat berwudhu aku seringkali merasa ragu- ragu apakah aku telah niat, atau membasuh muka sehingga aku mengulang wudhuku kembali, dan ketika aku sholat aku seringkali ragu apakah aku sudah takbirotul ihram tadi atau apakah aku sudah membaca surat Alfatihah? Sehingga aku mengulang kembali sholatku bahkan sampai berkali-kali. Menurutmu apa yang harus aku lakukan?” Imam ibnu malik : “Jadi engkau membasuh muka, membasuh tangan, mengusap kepala kemudian kamu merasa bahwa kamu belum membasuh muka? Atau kamu sholat, takbir, membaca Alfatihah, ruku’ dan seterusnya kemudian di waktu sujud kamu merasa sepertinya kamu belum membaca surat Alfatihah?“ Penanya: “ Kira2 begitu” Imam Ibnu Malik: “ Kalau begitu kamu boleh meninggalkan wudhu dan sholat, ia tidak wajib lagi atasmu” Penanya: “Kenapa bisa begitu, imam?” Imam Ibnu Malik: “Ya, sebab orang yang sudah takbir tapi merasa belum takbir, sudah berwudhu tapi merasa belum membasuh muka itu adalah orang yang tidak waras dan orang gila tidak lagi diwajibkan melakukan sholat” Penanya: “ ???????....... ” Sejak saat itu dia tidak pernah lagi mengikuti was-wasnya sebab dia tidak mau menjadi gila.
2- Ikutilah pendapat ulama yang berpendapat ringan dalam masalah tersebut. Jika was-was yang dialami adalah dalam permasalahan fiqih seperti wudhu, sholat, puasa dan lainnya maka sebaiknya ikutilah pendapat yang ringan
dalam masalah tersebut. Sebab was-was yang merupakan penyakit hati pengobatannya sama dengan penyakit badan. Ia membutuhkan sesuatu yang berlawanan dengan yang dia alami. Orang yang kena panas tinggi diobati dengan didinginkan badannya, dan yang
kena kurang darah diberi suplemen penambah darah untuk menstabilkannya. Maka, jika seseorang was-was dalam masalah niat misalnya dia bisa mengikuti pendapatImam Abu Hanifah yang mengatakan bahwa niat itu tidak wajib, maka mengingat pendapat yang berat dalam suatu permasalahan bagi orang yang was-was dalam masalah tersebut sama saja dengan menambahkan gula di makanan orang yang mengidap diabetes.
Cobalah baca kisah yang pernah diceritakan guru saya dibawah ini: Datang seseorang kepada seorang alim ulama terkemuka pada zamannya yaitu Habib Abdurrahman Al Masyhur (seorang Mufti Hadromaut sekaligus pengarang kitab Bughyatul Mustarsyidin) dia mengadu kepada beliau atas penyakit was-wasnya terhadap najis yang sudah sangat mengganggu sehingga membuatnya selalu mengganti pakaian setiap akan mengerjakan sholat karena merasa bahwa pakaian yang dikenakannya berkemungkinan terkena najis, dan karena ada kemungkinan najis itu juga mengenai badannya dia memutuskan untuk mandi sebelum wudhunya. Habib Abdurrahman tidak menjawab keluhannya akan tetapi mengajaknya menuju masjid tatkala adzan berkumandang, beliau hanya menanyakan tentang satu hal: “Kamu yakin bahwa saya adalah gurumu yang tidak akan memutuskan sesuatu kecuali dengan panduan ilmu?”
Orang itupun mengangguk dengan pasti.
Di tengah perjalanan mereka,mereka mendapati seekor kambing yang sedang mengeluarkan kotoran, orang itupun berusaha menjauh sebisa mungkin, akan tetapi sang guru justru menghentikan langkah dan malah menyuruhnya untuk mengambil kotoran tersebut dengan tangannya dan meletakkannya di saku baju yang tengah dia kenakan, seraya berkata: “Ada di antara ulama yang bermadzhab syafi’i yang mengatakan bahwa kotoran dari binatang ternak yang boleh dimakan dagingnya adalah suci“ Orang itu menuruti ucapan gurunya meletakkan kotoran di sakunya dan berangkat sholat dengan pakaian tersebut. Sejak hari itu sembuhlah penyakit was wasnya.
3- Mohonlah perlindungan kepada Allah dari godaan syeitan. Sebab hanya Dialah sumber kekuatan kita, dan tatkala hati kita mengingatNya itu adalah senjata terbesar untuk kita mengalahkan musuh manapun. Nabi Muhammad SAW mengatakan tentang tafsir dari surat An-Nas ayat 4
(Dari kejahatan bisikan syeitan yang suka bersembunyi):
" Syeitan bersembunyi tatkala seseorang mengingat Allah SWT dan dia akan menguasai tatkala orang tersebut lupa kepada Allah SWT " Maka setiap was-was itu datang konsentrasikan pikiranmu mengingat Allah dan mohonlah agar Dia menjagamu dari godaan syeitan. Kemudian lihatlah bahwa bisikan- bisikan itu akan berkurang. Jika tiga hal di atas ini selalu kau lakukan setiap kali was-wasmu datang akan ada waktu dimana
was-was hanya akan menjadi masa lalu. Sehingga barangkali kalau nanti ada seseorang bertanya kepadamu: “Pernah kena was-was?“ Kamu akan berkata: “Sudah lupa tuh''.
Semoga kita dan keluarga kita serta kaum muslimin selalu diberi perlindungan oleh Allah dari godaan syeitan.
sumber : kababitak7.blogspot.com
Lintasan Kufur / Syirik didalam Hati
Benih-benih kekufuran dan kemusyrikan sesekali menyembul tiba-tiba di benak orang yang beriman. Bisikan kemusyrikan atau kekufuran yang sekejap melintas dan terbersit begitu saja. Hal ini tentu saja menjadi perhatian para ulama.
Tiba-tiba saja terbayang dalam benak kita sesuatu yang tidak layak atau terlarang dalam akidah keimanan kita. Benih-benih pikiran yang terbersit di dalam hati ini muncul begitu saja di luar kuasa manusia. Hanya saja bibit-bibit kemusyrikan dan kekufuruan yang masih dalam angan-angan ini tidak dihitung oleh Allah SWT.
فأما الخواطر، وحديث النفس، إذا لم يستقر ويستمر عليه صاحبه فمعفو عنه باتفاق العلماء، لانه لا اختيار له في وقوعه، ولا طريق له إلى الانفكاك عنه وهذا هو المراد بما ثبت في الصحيح عن رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أنه قال: إن الله تجاوز لامتي ما حدثت به أنفسها ما لم تتكلم به أو تعمل.
Artinya, “Adapun angan-angan yang lewat di benak seseorang dan bisikan di dalam hati bila tidak tetap atau tidak ditetapkan oleh yang bersangkutan maka itu dimaaf berdasarkan kesepakatan ulama. Pasalnya, lalu lalang angan-angan (khawatir) itu bukan pilihan kita. Tiada jalan untuk melepaskan diri. Ini yang dimaksud dalam sabda Rasulullah SAW, ‘Sungguh, Allah memaafkan umatku atas ucapan yang terbersit di dalam dirinya selagi tidak diutarakan atau diamalkan,’” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).
Ulama membahas lebih lanjut sabda Rasulullah SAW tersebut. Menurut ulama, kekufuran dan kemusyrikan yang melintas dalam benak seseorang tidak lantas membuatnya keluar dari keimanan sebagai keterangan Imam An-Nawawi berikut ini:
قال العلماء: المراد به الخواطر التي لا تستقر. قالوا: وسواء كان ذلك الخاطر غيبة أو كفرا أو غيره، فمن خطر له الكفر مجرد خطر من غير تعمد لتحصيله، ثم صرفه في الحال، فليس بكافر، ولا شئ عليه.
Artinya, “Ulama mengatakan, maksud dalam hadits itu adalah angan-angan yang tidak langgeng. Mereka mengatakan, semua itu sama saja apakah bisikan yang terbersit baik ghibah, kekufuran, maupun pikiran tak layak lainnya. Seseorang yang terbersit di dalam hatinya bibit kekufuran tanpa sengaja, lalu ia menyingkirkan angan itu seketika, maka tidak kafir. Angan-angan seperti itu tidak bermakna apapun,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).
Angan-angan kemusyrikan dan kekufuran bukan sesuatu yang bermakna. Oleh karenanya, Allah memaafkan lintasan pikiran sekeji apapun yang memang di luar kuasa manusia. Tetapi lintasan pikiran semacam ini mesti segera ditepis dengan mengalihkan perhatian batin kita kepada hal lain sebagai keterangan berikut ini:
وسبب العفو ما ذكرناه من تعذر اجتنابه، وإنما الممكن اجتناب الاستمرار عليه فلهذا كان الاستمرار وعقد القلب حراما ومهما عرض لك هذا الخاطر بالغيبة وغيرها من المعاصي، وجب عليك دفعه بالاعراض عنه وذكر التأويلات الصارفة له عن ظاهره
Artinya, “Sebab pemaafan atas apa yang kami uraikan adalah karena tidak mungkin menghindari angan-angan yang terbersit. Yang mungkin dilakukan adalah menghindari kelanggengannya dan menghindari pembenaran oleh hati. Ketika ghibah dan maksiat lain terbersit di benakmu, maka kamu wajib menolaknya dengan cara berpaling atau memaknainya dengan tafsiran yang berseberangan dari harfiyahnya,” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, [Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H], halaman 296).
Benih-benih kemusyrikan dan kekufuran ini tumbuh di hati orang beriman. “Pikiran-pikiran” terlarang itu mencoba mengganggu keyakinan orang yang beriman. Pikiran yang terbersit itu memang menggoda anak manusia karena semata keimanan yang tertanam di hati mereka sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut ini:
وحكي أن رجلا شكا إلى النبي صلى الله عليه وسلم وسوسة الشيطان فقال إن الشيطان لا يدخل بيتا ليس فيه شيئ، فذلك من محض الإيمان.
Artinya, “Diceritakan bahwa seorang sahabat mengadu kepada Nabi SAW perihal was-was yang diembuskan setan. Rasulullah SAW mengatakan, ‘Setan tidak masuk rumah di mana tak ada apapun di dalamnya.’ Itu semata-mata karena iman,” (Lihat Syekh Said M Ba’asyin, Busyral Karim, [Beirut: Darul Fikr, 2012 H/1433-1434 M], juz I, halaman 246).
Syekh Ar-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj mengajarkan sebuah doa agar Allah SWT menyelamatkan kita dari kemusyrikan dan gangguan pikiran yang dapat membawa kekufuran. Doa ini disarankan dibaca sebagai tambahan doa duduk di antara dua sujud.
رَبِّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنْ الشِّرْكِ بَرِّيًّا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا وَارْفَعْنِي وَارْحَمْنِي
Rabbi hab lî qalban taqiyyâ, naqiyyan minas syirki bariyya, lâ kâfiraw walâ syaqiyyâ, warfa‘nî warhamnî.
Artinya, “Tuhanku, berikan untukku anugerah hati yang takwa, suci-bebas dari syirik, tidak kufur, dan tidak celaka. Tuhanku, angkatlah derajatku dan turunkan rahmat-Mu bagiku.”
Semoga Allah SWT melindungi akidah kita dari dosa kemusyrikan dan kekufuran. Di samping itu, kita juga dianjurkan untuk menguatkan kembali akidah melalui kajian sifat dua puluh atau akidah 50 dalam pengertian Ahlussunah wal Jamaah. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Penyakit waswas adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Penyakit ini akan menjadikan seseorang tidak khusyuk dalam beribadah. Bahkan akan membuat malas melakukannya. Ibadahnya pun tidak akan optimal. Sebab, waktunya habis untuk mengulang-ulang ibadah yang tidak perlu diulang.
Dengan demikian, sudah seharusnya bagi setiap muslim untuk mewaspadai penyakit kronis ini. Sebab penyakit ini merupakan tentara setan dan harus segera ditumpas. Kalau tidak, penyakit ini akan semakin menancap dalam hati dan sulit hilang. Pada akahirnya, akan membuat empunya seperti orang tidak waras.
Bagaimana tidak? Dia membasuh wajah berulang kali, padahal basuhan yang pertama sudah sah, dia melakukan takbiratul ihram beberapa kali, padahal takbiratul ihramnya sudah baik, dan dia membaca Fatihah tidak selesai-selesai, padahal bacaannya lumayan sempurna.
Lalu, bagaimanakah cara mengobati penyakit waswas? Imam Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan dalam kitabnya, Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah, tips-tips menghilangkan penyakit waswas. Setidaknya, ada enam cara untuk menaklukkan penyakit setan itu.
Pertama, tidak menghiraukan. Obat terampuh untuk menumpas waswas adalah tidak menghiraukan ketika keraguan datang. Contoh, ketika melakukan Takbiratul Ihram, hatinya ragu sah atau tidak, maka keraguan itu tidak usah dihiraukan. Lanjutkan saja shalatnya. Yakinlah bahwa Takbiratul Ihram-nya sah. Jika hal itu dilakukan, waswas sedikit demi sedikit akan hilang. Namun, apa bila dituruti, maka waswas itu akan semakin bertambah dan bertambah sehingga akan membuat empunya seperti orang gila.
Kedua, sadar bahwa waswas itu dari setan. Sebagaimana sudah maklum, setan adalah musuh bebuyutan kita. Mereka berusaha keras untuk menjerumuskan kita ke jalan yang dimurkai Allah. Oleh Karen itu, mereka mengganggu kita saat kita beriabadah. Menyelipkan keraguan dalam hati kita; sah tidak niat kita, sah tidak bacaan tahiyat kita dan setersunya. Dengan demikian, jika waswas datang, sadarlah bahwa setan sedang mengganggu kekhusyukan kita.
Ketiga, tancapkan dalam hati bahwa agama Islam itu mudah. Orang yang waswas biasanya menganggap ibadah yang telah dilakukan tidak sah. Misal, dia menganggap niatnya tidak sah, bacaan Fatihahnya tidak sah dan seterusnya. Sehingga dia mengulang-ulang apa yang telah dia lakukan. Hal itu hanya menyusahkan dirinya. Sebab, Islam itu mudah. Rasulullah saw tidak pernah memberikan pemahaman yang sulit tentang agama Islam kepada umatnya.
Keempat, belajar dengan tekun. Baiasanya orang waswas disebabkan karena belaum mengerti betul tentang ibadah yang dia lakukan. Sebab, orang alim dan mengerti seluk beluk agama, dia tidak akan waswas. Oleh karena itu, bagi orang yang waswas, belajarlah agama secara berkelanjutan. Setidaknya ibadah yang di-waswasi. Misalnya ketika shalat, dia waswas, maka belajarlah tentang ilmunya shalat.
Kelima, bacalah Lâ Ilâha Illa-llâh. Orang yang terkena penyakit waswas disunahkan memperbanyak kalimat tauhid ini. Sebab, ketika mendengar kalimat tauhid ini, setan akan lari.
Keenam, membaca ta’awwudz. Utsman bin abil Aash pernah bercerita kepada baginda Nabi saw bahwa setan telah mengganggu shalatnya. Maka Nabi memerintahnya untuk membaca ta’awwudzdan meludah ke kiri tiga kali. Resep itu pun dilakukan. Seketika, penyakit waswas itupun hilang.
Demikianlah obat waswas menurut Ibnu Hajar al-Haitami. Semoga kita semua dapat mengamalkannya sehingga penyakit waswas hengkang dari hati kita. Sehingga kita dapat beribadah dengan khusyuk.***
Saifuddin Syadiri, Mahasiswa Program Studi PAI Universitas Sunan Giri Surabaya.
Doa Menghilangkan Was Was.
Waswas merupakan sebuah penyakit yang bersumber dari setan. Waswas seringkali terjadi dalam ibadah, khususnya dalam shalat. Orang yang terkena penyakit waswas seringkali mengulang-ulang pembacaan niat shalat di dalam hatinya, mengulang-ulang gerakan takbiratul ihram, dan mengulang-ulang bacaan dalam shalat.
Rasa waswas tersebut biasanya berawal dari keragu-raguan dalam diri seseorang apakah niat, bacaan ataupun gerakannya dalam shalat sudah sah atau belum.
Agar terhindar dari penyakit waswas, Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam kitab al-Bujairami ‘ala al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz II, hal. 19 dan Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah al-Zain (Beirut: Dar al-Fikr, tt), hal. 57 meriwayatkan sebuah doa untuk menghilangkan waswas dalam shalat, yakni:
اللهم إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ شَيْطَانِ الْوَسْوَسَةِ خَنْزَبٍ
Allâhumma innî a’ûdzu bika min syaithânil waswasati khanzab
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari Khanzab, setan pembuat waswas.” (Dibaca tiga kali)
Bisa juga dengan melakukan apa yang diajarkan oleh Imam Abi Hasan as-Syadzili, sebagaimana diriwayatkan oleh Syekh Abu Bakar Syatho ad-Dimyathi dalam kitab I’anah al-Thalibîn (Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Islamiyyah, tt), juz I, hal. 155. Caranya ialah dengan meletakkan tangan kanan pada bagian dada kemudian membaca doa ini:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْخَلَّاقِ الْفَعَّالِ
Subhânal malikil quddûsil khallâqil fa‘‘âl
“Maha Suci Allah Yang Maha Suci, Maha Mencipta, dan Maha Berbuat.” (Dibaca tujuh kali)
Dilanjutkan membaca ayat Q.S. Fathir (35:16-17):
إنْ يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللهِ بِعَزِيزٍ
Iy yasya’ yudzhibkum waya’ti bi khalqin jadîd, wa mâ dzâlika ‘alaLlâhi bi ‘azîz
“Jika Dia menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.”
Masih dari kitab yang sama, di hal. 256, Syekh Abu Bakar Syathojuga meriwayatkan doa lain yang lebih ringkas, yakni cukup dengan membaca:
لآ إِلَهَ إِلَّا اللهَ
Lâ ilâha illaLlâh
“Tiada tuhan selain Allah”
Sebagai penutup dalam postingan kali ini, Syekh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, dalam kitab Al-Adzkâr al-Muntakhabah min Kalâmi Sayyid al-Abrâr, (Surabaya: Kharisma, 1998), hal. 51 meriwayatkan, bahwa Jika rasa waswas datang di tengah shalat, maka sunnah melafadzkan:
أَلْعَنُكَ بِلَعْنَةِ اللهِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنْكَ
Al’anaka bi la’natiLlâhi a’ûdzu biLlâhi minka
“Semoga kau (setan) dilaknati dengan laknat Allah. Aku berlindung pada Allah darimu”
Demikianlah beberapa doa yang sunnah kita ucapkan untuk menghilangkan waswas dari diri kita. Semoga bermanfaat khususnya bagi penulis, dan bagi seluruh pembaca. Wallahu a’lam bi showab. (Muhammad Ibnu Sahroji)
Syeikh Muhammad bin Wasi’ ketika selesai wudhu selalu didatangi setan yang membisikkan was-was dalam hatinya bahwa beliau belum mengusap kepala. Hal ini membuatnya kesal sehingga pada suatu hari beliau kemudian bersumpah,
“Demi Allah aku telah membasuh kepalaku.”
Kemudian ia membaca sebuah do’a tertentu. Setelah membaca do’a tersebut, setan menampakkan diri dan berkata,
“Wahai Syeikh Muhammad, jangan kamu sebarkan doa ini nanti aku akan menjamin keamananmu dan keluargamu.”
Lalu Syaikh Muhammad bin Wasi’ menjawab,
“Jika doa ini menyulitkanmu, aku justru akan menyebarluaskannya ke seluruh negeri. Aku dan anak-anakku tidak butuh jaminan keamanan darimu. Kami akan memohon bantuan Allah untuk memerangimu.”
Syaikh Muhammad bin Wasi’ radhiyallâhu ‘anhu mengetahui betul tipu daya setan. Jika saja ia merasa aman dari ganggguannya, setan akan kembali membisikkan was-was dan menyesatkannya. Dan inilah bunyi do’a Syaikh Muhammad bin Wasi’ yang membuat setan kalang kabut tidak dapat mengganggu manusia:
اَللّٰهُمَّ إِنَّكَ سَلَّطْتَ عَلَيْنَا عَدُوًّا بَصِيْرًا بِعُيُوْبِنَا ، مُطَّلِعًا عَلَى عَوْرَاتِنَا ، يَرَانَا هُوَ وَقَبِيْلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَنَرَاهُمْ ، اَللّٰهُمَّ فَأَيِّسْهُ مِنَّا كَمَا اَيَّسْتَهُ مِنْ رَحْمَتِكَ ، وَقَنِّطْهُ مِنَّا كَمَا قَنَّطْتَهُ مِنْ عَفْوِكَ ، وَبَاعِدْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ جَنَّتِكَ ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، يَآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
“Ya Allah, telah Engkau kuasakan kepada kami musuh yang mengetahui aib-aib kami dan melihat aurat kami, dia dan bala tentaranya dapat melihat kami sedangkan kami tidak dapat melihat mereka. Ya Allah, buatlah ia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya berputus asa dari rahmat-Mu. Buatlah ia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya berputus asa dari ampunan-Mu. Jauhkanlah ia dari kami sebagaimana Engkau telah menjauhkannya dari surga, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu, Wahai Yang Maha Pengasih dari semua yang berjiwa kasih,”.
Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, Pengasuh Majelis Ar-Raudhah Surakarta menyatakan agar membaca doa Syaikh Muhammad bin Wasi’ ini tiga kali pada waktu pagi dan sore.
(Disarikan Dari Kalam Habib Muhammad bin Hâdî Asseggâf yang dikumpulkan oleh Habib Ahmad bin ‘Alwî Al-Jufrî Jilid II hal.306, Manuskrip)
Komentar
Posting Komentar